Aku Ingin Pulang!
Gemerlap malam dibawah sinar rembulan dimandikan oleh jutaan kembang api di seluruh penjuru dunia. Malam pergantian tahun. Bukan baru kali ini Aziz merayakan di negeri orang. “Kalau saja aku bisa pulang, aku ingin pulang. Sudah 3 tahun aku belum pulang ke rumahku.”
Aziz. Hasil cinta dari seorang pengusaha dan ibu dokter. “Kata nenek, aku terlahir sebagai anak perempuan. Tumbuh hanya dengan menangis dalam hal apapun.” “Kata kakek, dulu aku hanya bisa berinteraksi dengan perempuan” “Namun kata ibuku, aku kelak akan menjadi pria hebat. Seperti do’anya padaku 20 tahun yang lalu di Bandung. Abdul Aziz. Perkasa”
Aziz adalah satu dari sekian banyak mahasiswa asal Indonesia yang beruntung untuk berkesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Mau tak mau dia harus rela meninggalkan negerinya, kotanya beserta seluruh yang dicintainya demi cita-citanya. Negeri Sakura.
Hari ini, masih tanggal 30. Aziz kembali tenggelam dalam kisah masa kecilnya dulu. “Aku ingat sekali betapa senangnya aku dibawa keliling kota. Tapi aku tak bisa mengingat bagaimana caraku menangis dulu. Hehehe” Aziz terus terhisap ke dalam, dan semakin dalam dan mengingat ketika... “Tujuh Desember... Tanggal yang akan selalu kuingat.. Ayah, apakah engkau merindukanku di surga?” Sesekali air jatuh dari kelopak matanya. Tapi dia menahannya. Sebab, dia lupa cara menangis lepas seperti saat kecilnya dulu.
“Aku juga ingat aku selalu dikelilingi teman-teman yang baik dan jahat. Walau demikian, ya mereka tetap temanku ‘kan?” Aziz membalik selembar demi selembar dalam album mini dengan “Friends” di bagian cover depan. Halaman favoritnya adalah, satu halaman khusus. “Teman Terbaik”. Aziz dan tiga temannya itu kerap kali menghabiskan waktu bersama-sama. “Apa kabar Fadli, Cut, dan Maya ya? Aku kangen kalian teman-teman.”
“Cut? Oh iya haha” Aziz membalik halaman, dan melihat foto-fotonya bersama kekasih tercinta. “Bagaimana pun juga, kamu adalah orang yang paling kurindukan dibanding Fadli dan Maya.” Matanya kembali berkaca-kaca. Hendak menangis, tapi jujur, dia lupa caranya menangis bebas.
Hari ini di bandara, Aziz berkeliling melihat kesana-kemari, berharap Allah menurunkan tiket pesawat menuju Indonesia. “Ya Allah aku rindu tanah airku. Aku ingin pulang.” Masih berjalan di bandara, mondar-mandir kesana kemari mencari tiket menuju destinasi Jakarta. Namun, hasilnya nihil. Tiket telah sold out. Akhirnya Aziz gagal lagi pulang ke rumah.
“Sungguh kalau saja aku bisa pulang, aku ingin pulang. Sudah 3 tahun aku belum pulang ke rumahku.” Aziz berharap akhir tahun ini adalah terakhir kali Aziz merayakan disini. Negeri Sakura. “Aku hanya berharap, besok malam akan ramai sekali di kota. Dan aku harap semuanya menikmati gemerlap malam pergantian tathun. Sehingga aku bebas menangis lepas dan mereka tidak tahu bahwa aku sedang menangis dalam bahagia."
"Aku ingin pulang."
Aziz. Hasil cinta dari seorang pengusaha dan ibu dokter. “Kata nenek, aku terlahir sebagai anak perempuan. Tumbuh hanya dengan menangis dalam hal apapun.” “Kata kakek, dulu aku hanya bisa berinteraksi dengan perempuan” “Namun kata ibuku, aku kelak akan menjadi pria hebat. Seperti do’anya padaku 20 tahun yang lalu di Bandung. Abdul Aziz. Perkasa”
Aziz adalah satu dari sekian banyak mahasiswa asal Indonesia yang beruntung untuk berkesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Mau tak mau dia harus rela meninggalkan negerinya, kotanya beserta seluruh yang dicintainya demi cita-citanya. Negeri Sakura.
Hari ini, masih tanggal 30. Aziz kembali tenggelam dalam kisah masa kecilnya dulu. “Aku ingat sekali betapa senangnya aku dibawa keliling kota. Tapi aku tak bisa mengingat bagaimana caraku menangis dulu. Hehehe” Aziz terus terhisap ke dalam, dan semakin dalam dan mengingat ketika... “Tujuh Desember... Tanggal yang akan selalu kuingat.. Ayah, apakah engkau merindukanku di surga?” Sesekali air jatuh dari kelopak matanya. Tapi dia menahannya. Sebab, dia lupa cara menangis lepas seperti saat kecilnya dulu.
“Aku juga ingat aku selalu dikelilingi teman-teman yang baik dan jahat. Walau demikian, ya mereka tetap temanku ‘kan?” Aziz membalik selembar demi selembar dalam album mini dengan “Friends” di bagian cover depan. Halaman favoritnya adalah, satu halaman khusus. “Teman Terbaik”. Aziz dan tiga temannya itu kerap kali menghabiskan waktu bersama-sama. “Apa kabar Fadli, Cut, dan Maya ya? Aku kangen kalian teman-teman.”
“Cut? Oh iya haha” Aziz membalik halaman, dan melihat foto-fotonya bersama kekasih tercinta. “Bagaimana pun juga, kamu adalah orang yang paling kurindukan dibanding Fadli dan Maya.” Matanya kembali berkaca-kaca. Hendak menangis, tapi jujur, dia lupa caranya menangis bebas.
Hari ini di bandara, Aziz berkeliling melihat kesana-kemari, berharap Allah menurunkan tiket pesawat menuju Indonesia. “Ya Allah aku rindu tanah airku. Aku ingin pulang.” Masih berjalan di bandara, mondar-mandir kesana kemari mencari tiket menuju destinasi Jakarta. Namun, hasilnya nihil. Tiket telah sold out. Akhirnya Aziz gagal lagi pulang ke rumah.
“Sungguh kalau saja aku bisa pulang, aku ingin pulang. Sudah 3 tahun aku belum pulang ke rumahku.” Aziz berharap akhir tahun ini adalah terakhir kali Aziz merayakan disini. Negeri Sakura. “Aku hanya berharap, besok malam akan ramai sekali di kota. Dan aku harap semuanya menikmati gemerlap malam pergantian tathun. Sehingga aku bebas menangis lepas dan mereka tidak tahu bahwa aku sedang menangis dalam bahagia."
"Aku ingin pulang."
Komentar
Posting Komentar